Club Details: Club Name: Football Club Internazionale Milano
Nicknames: Nerazzurri (the Black-Blues), La Beneamata (the Cherished), Il Biscione (the Big Grass Snake)

Ground / Stadium: Ground: San Siro, Milan, Italy
Capacity: 85,700

Founded: 9th March 1908 (after a split from AC Milan)

Notable Staff: Coach: Roberto Mancini
President: Massimo Moratti

Rivals: AC Milan

Serie A Champions: 1910, 1920, 1930, 1938, 1940, 1953, 1954, 1963, 1965, 1966, 1971, 1980, 1989, 2006, 2007

Coppa Italia Winners: 1939, 1978, 1982, 2005

European Cup Winners: 1964, 1965

UEFA Cup Winners: 1991, 1994, 1998

About Inter Milan: Internazionale is a professional football club based in Milan that was founded in 1908 and is more commonly known as Inter. Inter are bitter rivals with fellow city dwellers AC Milan and the football derbies between these two legendary clubs are always exciting and well fought.

Inter are one of the most successful clubs in Italian footballing history having collected fifteen Scudetti, five Coppa Italia, three UEFA Cups and two European Cups throughout their long and illustrious history. Inter are well known for having never been relegated from the top flight of Italian football in their history. Inter have solidified their position as one of Europe’s leading clubs and are a member of the G-14.

In their early days Inter tasted success quickly lifting their first Scudetto in 1910 just two years after the club’s formation. However, Inter had to wait until the 1938-39 season before they succeeded in securing their first Coppa Italia. Interestingly throughout the fascist period in Italy Inter abandoned the name Internazionale as it was frowned upon and they were instead known as Ambrosiana but they soon returned to their original name in 1942.

Inter excelled in the 1960’s winning three League titles and back to back European Cup wins as the club enjoyed their most successful era to date. Inter continued to perform well and added further silverware to their already impressive trophy haul in the 1970’s and 1980’s.

However, in stark contrast the 1990’s brought a period of decline to the club with Inter struggling to achieve even mediocre performances. Inter were languishing while rivals Juventus and AC Milan were taking both Italy and Europe by storm. Despite a poor turn in fortunes Inter still managed to lift three UEFA Cups in 1991, 1994 and 1998.

Inter finally laid these difficult years to rest lifting the Coppa Italia in consecutive years in 2005 and 2006 beating Roma in both finals. In addition to this Inter were awarded the 2005-06 League title after points were deducted from Juventus and AC Milan due to their involvement in a match fixing scandal. Inter firmly established themselves as a force in Italian football that nobody could question when they lifted the League title at the end of the 2006-07 season in their own right.

hmmm…..Gw taruhan banyak banget nihhh, tapi ga ketwan sama si endut, kalo ampe ketawan bisa berabeh gw, well…..

Pilihan gw tetep pada Chelsea, karena :

  1. Keberuntungan, dari pertama 16 besar Chelsea udah dapet lawan-lawan yg Ganas, Coba?? ga mungkin kan do’i bisa menang? tapi apa? sampe ke final booooo……Chelsea’s just lucky.
  2. Tanpa beban, Ga kayak MU, Chelsea itu bakalan maen lepas tanpa beban at all…..kenapa? karena kalo menang sukuuuurrr, kalo kalah juga alhamdulillah udah bisa nyampe ke pinal, ya gag sopp?? Coba kalo diliat dari MU sendiri……,,MU dengan pengalaman yang bejibn banget main di final Liga Champion ini, kalau kalah dari Chelsea? malu bangett bunnggg…. apalagi MU juga dibebanin buat Ngalungin Gelar sm Gelar Premier-nya……
  3. Pemain Mudanya, pemain mudanya?? well jelas Chelsea menang jauhhh donkkkk…..
  4. Dukungan Holligan, dukungan dari Holligan bener2 berpengaruh, dan Chelsea punya faktor ini!!!
  5. Pelatih, jangan ditanya lagi dehhh, kelicikan pelatih nya kayak apa lo tau sendiri kan???
  6. Bursa Taruhan, coba check di internet atau di koran2 deh, siapa yg megang bursa taruhann?? Chelsea booo….bola atas? bola bawah? bola mati? semua Chelsea…..

Jakarta – Dua scudetto terakhir yang didapat Inter Milan datang disertai cibiran dari pesaingnya. Tahun ini Nerazzurri membuktikan kalau mereka adalah jawara sejati Liga Italia.

Gelar pemberian. Demikian seteru Inter selalu menuding sukes yang dirain Zavier Zanetti cs dua musim lalu. Saat itu Inter mendapat berkah dari skandal calciopoli yang mengguncang Italia, mengakhiri musim di posisi tiga, Inter kemudian dikukuhkan sebagai juara menggantikan Juventus.

Saat musim lalu kembali mengakhiri kompetisi sebagai pemuncak klasemen, musuh-musuh Inter juga tak bisa menerimanya begitu saja. Kali ini skuad Roberto Mancini disebut-sebut masih diuntungkan dengan skandal calciopoli setahun berlalu.

Musim tersebut Inter memang benar-benar memiliki lawan sebanding karena “Si Nyonya Besar” berlaga di Seri B sementara Milan mendapat pengurangan delapan poin. “Si Biru Hitam” pun sudah menyegel gelar saat kompetisi masi menyisakan lima pekan dengan keunggulan 20 poin atas Roma di posisi dua.

Menyusul kemenangan 2-0 atas Parma di pekan terakhir Seri A, Inter pun meraih hat-trick Scudetto. Untuk titel juara kali ini seharusnya tak lagi dapat teriakan bernada miring karena merupakan peneguhan atas sesuatu yang selama ini disangkal, kehebatan Inter Milan.

Bersama Juventus dan Milan, Inter memulai kompetisi dari garis start yang sama. Dan dalam perjalanannya kemudian, mereka membuktikan kalau status juara tak cuma bisa didapat jika itu berupa hibah atau saat musuh terkendala.

Justru Inter mengalami banyak masalah sepanjang musim ini. Berkali-kali mereka diterpa isu tak mengenakkan soal keberpihakan wasit, padahal dalam beberapa laga mereka terbukti tak kebal wasit dengan seringnya kartu merah diarahkan sang pengadil pada anggota skuad Inter.

Selepas paruh musim lalu Inter malah diguncang kabar mengejutkan menyusul keputusan mundur Mancini. Sesuatu yang jelas memberi efek negatif pada mental pemain Inter, meski kemudian sang allenatore membatalkan niatnya angkat kaki dari San Siro.

Menciutkah Inter dengan semua tekanan itu? Melihat hasil di pekan akhir Seri A kita bisa menjawab “tidak”. Performa mereka memang sempat menurun, keunggulan 11 poin atas AS Roma di awal Februari terkikis menjadi hanya satu angka jelang pekan pamungkas.

Ditundukkan AC Milan 1-2 dan ditahan 2-2 oleh Siena, mental juara Inter terlihat di Ennio Tardini saat melawat Parma di pekan pamungkas kompetisi. Keunggulan Roma pada paruh pertama sama sekali tak menggoyahkan mereka. Saat peluit panjang dibunyikan wasit, mereka keluar sebagai pemenang — dan juara — lewat dua gol Zlatan Ibrahimovich.

“Kami sudah menderita untuk memenangi Scudetto ini, tapi kami pantas mendapatkannya. Saya benar-benar karena kami memenangi scudetto saat seluruh Italia berdiri menghalangi kami,” seru bos besar Inter, Massimo Moratti.

DetikSport.